Menghargai ijtihad demi keutuhan persaudaraan sesama muslim

بسم الله الرحمن الرحيم

silaturahim

 

Tanggal 2 Desember 2016 disepakati oleh Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dengan GNPF MUI bahwa akan ada aksi damai di Lapangan Monas. Keputusan itu diambil karena aksi shalat jumat berjamaah di jalan protokol ( Jalan Thamrin-Sudirman. ) akan mengganggu ketertiban umum.

Namun saya tak membahas agendanya, akan tetapi bagaimana sikap kaum muslimin terhadap agenda 212 tersebut, dan memang muslim di indonesia berbeda pendapat akan agenda tersebut, dan yang membuat saya kecewa adalah saling mencela. Beberapa muslim yang pro menghakimi bahwa yang kontra adalah kaum munafik, dan yang kontra menghakimi bahwa yang pro adalah kaum radikal.

Setelah saya mencari dasar kedua pendapat ternyata sama – sama mempunyai landasan tersendiri, bahkan dengan dalil yang syar’i, artinya keduanya sama – sama berijtihad. Saya khawatir akan membuahkan dampak yang merusak keutuhan persaudaraan sesama muslim, hanya karena tak mau menghargai perbedaan ijtihad.

Ijtihad ( اجتهاد ) adalah sebuah usaha yang sungguh – sungguh, pada konteks ini ijtihad artinya bersungguh – sungguh memilih pendapat maupun pro atau kontra, namun masih dalam koridor syariat.

Ternyata perbedaan dalam ber-ijtihad sudah sering terjadi pada kaum muslim terdahulu, sebagai contoh Imam Syafi’i yang kita tahu mayoritas muslim indonesia menganut madzhab syafi’i terutama warga NU.

Kita semua tahu bahwa Imam Hanafi dan Imam Hambali tegas bahwa qunut bukan sunnah pada shalat shubuh, kecuali pada shalat witir. Adapun Imam Syafi’i beliau menolak pendapat ini. Dengan dalil yang tak kalah kuat, Imam Syafi’i meyakini bahwa qunut shubuh adalah sunnah. Sebagai ulama yang konsekuen, Imam Syafi’i tak putus membaca qunut shubuh sepanjang hidupnya.  Kecuali pada suatu hari beliau meninggalkannya ketika shalat shubuh hanya karena beliau shalat yang di daerah itu terdapat makam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit alias Imam Hanafi.

Ternyata imam syafi’i menaruh hormatnya kepada ilmu dan jerih payah ijtihad Imam Hanafi. Tak hanya kejadian ini, sangat banyak kisah – kisah yang menceritakan bahwa ulama – ulama kita terdahulu sangat menghormati ijtihad ulama selainnya.

Sebagai muslim saya berharap kepada seluruh saudaraku sesama muslim, mari kita tetap eratkan tali – tali ukhuwah seperti yang dicontohkan oleh para ulama yang terdahulu terutama Imam yang diikuti mayoritas muslim di indonesia.

Bagi yang pro terhadap aksi damai 212 mari kita menahan agar tidak menjatuhkan kehormatan mereka yang kontra, tetap saling menyayangi dan mengasihi, begitu juga sebaliknya bagi yang kontra terhadap  aksi damai 212.

Kalau kita bicara ukhuwah, sudah tak ada yang namanya aku menang kau kalah, semuanya dikembalikan kepada Allah azza wa jalla, umur kita tidak panjang. Semoga kelak kita dipanggil oleh-nya dalam keadaan saling mengeratkan tali ukhuwah atas nama Allah, bukan dalam keadaan saling menggunting tali ukhuwah.

 

Amin ~

Allahu a’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s