Sampai kapan kita berselisih ( Ukhuwah di atas tauhid)

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Segala puji bagi Allah, yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kita, siapa diantara kita yang paling baik amalnya.

Salawat serta salam semoga tercurahkan kepada rasulullah , keluarganya, para sahabatnya, tabiin, taibut tabiin, dan mukmin yang senantiasa teguh diatas jalan ini.

Allah Berfiman :

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَةَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.(Ali Imron : 103)

Ayat ini saya gunakan sebagai pengantar / muqoddimah karna kali ini saya akan berbagi soal ukhuwah. Hampir seluruh ormas islam/gerakan islam menggunakan ayat ini untuk mengingatkan akan pentingnya berukhuwah, dan pentingnya tidak bercerai -berai, karena persaudaraan / ukhuwah yang telah kita nikmati ini adalah suatu nikmat.

Mari kita bersama – sama berkaca diri, sudahkah kita berukhuwah dengan baik, sesuai apa yang diinginkan Allah dan rasulnya? tidakkah seharusnya kita sebagai orang mukmin saling menyayangi dalam ukhuwah islamiyah? mari kita renungi ayat ini :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Al Hujurat :10)

Perhatikan awal ayat ini :
Orang – orang beriman itu sesungguhnya bersaudara

 

Mari kita renungi diri ini…
masihkah kita mengkorupsi senyum kita ketika bertemu sesama mukmin hanya karna mereka adalah bukan jamaah kita?
masihkah kita megutamakan tetangga yang lebih jauh dari pada tetangga yang lebih dekat, hanya karna tetangga yang lebih jauh adalah satu madzhab dengan kita, dan tetangga yang lebih dekat berbeda madzhab? padahal keduanya sesama mukmin, sama – sama mentauhidkan allah?

apakah hanya karna kita tidak qunut subuh, dan teman kita melakukan qunut subuh, lalu kita mengurangi hak sesama mukmin yang seharusnya mereka dapatkan?

dan anehnya kita mengaku sebagai pencinta rasulullah?

tidak ingatkah kita terhadap hadits – hadits rasulullah tentang ukhuwah,?

عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ خَادِمِ رَسُوْل الله عَنْ النَّبِي قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, khadim (pembantu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau berkata, “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”.(HR. Muslim).

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Dari Nu’man bin Basyir berkata :  Berkata Rasulullahi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim).

Terkadang kita suka bersifat kasar dalam hal mengingatkan, mulai dari mengkafirkan, membidahkan, dan mensyirikkan secara terang terangan dan tak beradab, tidakkah kita ingat kisah Berkata Rasulullahi shallallaahu ‘alaihi wa sallam terhadap kaum badui yang mengincingi masjid? rasullullah menyelesaikannya dengan penuh kelembutan karna ketika itu kaum badui tidak mengerti. Tidak seperti kita yang mengedepankan sifat egois kita, kita selalu menganggap pendapat kitalah yang paling benar, sehingga kericuhan antar persaudaraan kita terganggu tanpa kita sadari.

Sudahlah, tinggalkan metode kasar ini, kita ini mukmin, Marilah kita bersama membangun negri ini dengan tauhid, sebagaimana yang dilakukan Rasulullahi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan para sahabat, bukan dengan cara yang bathil.

bersambung … insyaa allah …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s